“.kira lari…!!!.” Ujar ayu sambil terengah-engah menaiki sebuah tangga.
“.tunggu aku...”ujar seorang wanita dengan muka yang tak jelas dibelakang ayu.
Tiba-tiba saja dia terpeleset karpet dan terjatuh, seorang wanita setengah baya mendekatinya dengan sebilah pisau ditangannya, dia menginjak kira dengan lutunya lalu mengangkat pisau dengan kedua tanganya, dia ingin membunuhnya!!
“.kira!!!.”ayu berteriak, lalu ayu keseimbangan hilang dan ayu terjungkal keluar jendela
BRAK.............
Ayu tersentak bangun, ayu duduk lalu mengedipkan matanya berulang kali.
Bertanya-tanya Apa dia sudah bangun? kenapa dia selalu memimpikan hal yang sama? Dan Siapa kira?
Ayu mengusap mukanya dengan kedua tangannya dan berusaha menenangkan diri.
“.Aku harus segera ketempat kerjaku.” Ujarnya lalu beranjak dari kasurnya.
“.mau minum kopi?.” Tanya tania, teman sekantor ayu.
“.boleh, kopi susu deh. Moodku lagi buruk banget nih.”
“.kenapa?.” dia duduk di samping ayu lalu memasang muka serius.
“.gak ada yang penting, Cuma mimpi buruk yang aneh.” ujarnya sambil tersenyum.
“.mimpi apa?.”
“.kenapa kamu tertarik banget dengan mimpiku?.”
“.Cuma mau tau aja. Kalo aku sih gak pernah.”
“.gak pernah mimpi buruk?.”
“.gak pernah mimpi indah malahan.”
Keduanya tertawa
“.heh, jangan becanda diwaktu jam kerja!.” Kata yeni sambil melotot
“.iya nenek cerewet!.”ujar tania
Yeni tersenyum “.emang mukaku kurang serem ya?.”
“.serem kok! Kayak kuntilanak.”
“.udah deh gak usah ngeledek.”
“.emang kenapa?.” Kata ayu sambil membelai rambut hitam panjangnya.
Ayu tersentak saat sadar akan sesuatu
‘Rambut hitam panjang?’ ujarnya dalam hati. Wanita dalam mimpiku juga berambut hitam dan panjang.
Ayu langsung menarik tangannya
“.ada apa?.”
“.gak pa pa, Cuma....” tiba-tiba jantung ayu berdebar kencang, ada perasaan tak nyaman yang mengganggunya.
Ayu mengaduk tehnya, seharusnya dia bisa menikmati waktunya seusai kerja. Tapi mimpi yang selalu mengganggunya membuatnya penasaran.
Bunyi HP membuyarkan lamunan ayu.
“.halo?.” jawab ayu
“.sayang? udah makan?.”
“.belum ma.” Ujarnya berbohong, dia mendorong sepiring nasi ayam dihadapannya.
“.kamu ke rumah sakit aja, nanti mama tunggu dikantinnya ya.”
“.iya deh.”
“.bye sayang.”
“.bye ma.”
Ayu menutup teleponnya lalu langsung pergi.
“.hai ma.” Ayu melambaikan tangan.
“.sayang. kenapa muka kamu keliatan pucat? Kamu pasti gak makan sarapan yang mama buat tadi pagi ya?.”
“.sarapan?.”
“.aduh, ni anak.” Laila mendorong kepala anaknya dengan telunjuknya “.mamakan udah buat pesan yang mama tempel dikulkas kalo sarapannya mama taro’ di atas lemari.”
“.lagian mama, kenapa pake ditaro’ diatas lemari. Ayu kira mama lupa buat sarapan.”
“.mana mungkin mama lupa buat sarapan. Bidadari mama kan harus terpenuhi gizinya. Masa’ seorang dokter ternama kayak mama gak bisa menjaga anak kesayangannya sih?.”
Ayu tersenyum bangga lalu memeluk ibunya.
“.ayo makan. Katanya belum makan.”
“.iya nih ma.’ Ayu dan laila duduk bersama dan memesan makanan.
Sesosok wanita mendekati ayu
“.Ayu, kamu harus pergi!! Kamu gak boleh bersama mama!! Pergi!!!!!!.” Tubuhnya mulai mengelupas seperti pohon yang mengering, darah keluar dari matanya dan diapun meleleh.
“.AAACKK...” aku terduduk
Tak berapa lama laila langsung masuk kekamar ayu “.ada apa sayang?.” Dia mengusap keringat ayu.
Ayu gemetaran dan berusaha bicara “.dia... dia...” ayu langsung memeluk erat laila dengan erat “.aku takut ma, aku takut.”
“.tenanglah sayang. Sekarang minum obat yang mama kasih sama kamu, kamu pasti lupa minum obat itu.”
Ayu mengangguk lalu meminum obat yang diberikan laila lalu mencoba untuk tidur lagi.
Ayu membuka mata, kepalanya berdenyut kencang, sepertinya mau pecah. Setiap kali meminum obat sebelum tidur, dia pasti mengalami sakit yang luar biasa dikepalanya. Tapi, dengan begitu ayu takkan bermimpi lagi.
Ayu berjalan menuju meja makan dan menemui laila yang meminum kopi gingseng.
“.pagi sayang.” Sapanya
“.pagi ma.” Ayu duduk sambil terus mengurut kepalanya.
“.sakit kepala?.”
“.iya nih ma. Kenapa ya, Tiap kali makan obat itu, paginya pasti pusing.”
“.efek samping aja. Gak bahaya kok. Obat itu kan menyembuhkan penyakit kamu, biar gak parah.”
“.iya deh.” Ayu tersenyum
“.mama langsung ke rumah sakit aja ya. Udah telat nih.”
“.ini kan hari minggu ma.”
“.sayang, orang sakit mana milih hari sih.”
“.oke oke, hati-hati bawa mobilnya.”
“.bye honey.”
“.bye.”
Ayu membolak balik halaman majalah yang sudah lama dibelinya
“.bosan!.”ujarnya, lalu melempar majalahnya dan mulai berjalan “.pengen dirumah aja tapi gak tau mau ngapain.” Ujarnya sambil masuk kekamar laila.
Ayu tidur dikasur empuk ibunya lalu mulai menerka-nerka lagi tentang mimpinya
“.jangan-jangan yang namanya kira itu orang yang benci sama aku? Atau orang gak suka dengan kesuksesan mama. Tapi kenapa dia menghantui aku? Apa dia ingin aku gila?.”
Ayu bangun dan mendekati meja rias dan mulai mengutak-atik kosmetik
“.ih, warnanya cantik banget.” Ujarnya sambil mengagumi lipstik pink muda. Lalu dia meletakkan lipstiknya dan mulai membuka laci.
“.hm?.”ada sesuatu yang mengganggunya
Dia mengambil sesuatu dilaci meja rias, benda itu cukup membuatnya takut dan penasaran “.buat apa mama menyimpan alat suntik dilaci, kira-kira isinya cairan apa ya?.”
BRAK...
Ayu terkejut dan langsung berbalik,
Ternyata hanya angin yang menghempas pintu “.duh, bikin kaget aja.” Ujarnya lalu menaruh kembali alat suntik laila lalu keruang tengah untuk menonton film drama kesukaannya.
“.jangan lari sayang... jangan paksa mama melakukan ini.” Suara itu terdengar jelas mengancam bagi ayu.
Dalam keadaan panik dan kebingungan ayu melihat kesekitarnya yang asing
‘aku harus sembunyi.. dia mau membunuhku’
“.sayang, dimana kamu? Mama Cuma ingin membuat kamu lepas dari penderitaan dunia.” Suara itu makin mendekat.
Ayu langsung masuk keruangan sempit yang ditemukannya pertama kali. Rasa takut memburu nafasnya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Derit lantai kayu terdengar mendekat, jantung ayu berdetak kencang seakan akan meledak.
“.bukan waktunya main petak umpet sayang...”
Ayu mengintip dari lubang kunci ruangan itu,
Sakit kak...
Desir darah mendadak turun kekaki, suara berbisik pelan itu berasal dari belakang ayu. Ayu gemetaran, dia tak sanggup berbalik.
‘aku akan mati’ bisiknya dalam hati
BRAK...
Pintu terbuka, ayu makin terbelalak menatap orang didepannya memegang pisau yang berlumuran darah.
“.ketauan...”
orang itu tiba-tiba medekat dan
TAP...
Aaackk
Dia menancamkan pisau kekepala ayu
Ayu terkejut dan membuka mata, nafasnya masih terengah. Dia duduk dan memandang lagi sekitarnya.
“.aku... aku bermimpi.” Ujarnya lega.
Dia memegang dadanya dan merasakan jantungnya masih berdetak kencang.
‘sebenarnya apa maksud mimpi itu? Kenapa aku selalu mimpi yang sama? Kakak?’
KRING....
Suara telepon membuat ayu terperanjat, dia segera mengangkat telepon yang terus saja berteriak seakan ingin menyadarkannya.
“.ha halo?.”
“.ada apa sayang?.”
“.mama?.”
“.kamu kenapa? Kok kayaknya kamu ketakutan gitu.”
“.ah enggak ma. Mama kapan pulang?.”
“.ya nanti malam dong sayang.”
“.pulang sekarang aja deh ma. Kan banyak dokter yang lain dirumah sakit itu.”
“.sayang, masa’ mama ngasih contoh yang gak baik sih ke rekan yang lain. Mentang-mentang mama yang punya RS, gitu?.”
“.ya enggak sih ma, tiba-tiba ayu kangen banget ama mama.”
“.oh sayang, mau minta apa kali ini?.”
“.ah mama. Emangnya ayu Cuma kangen mama kalo pengen sesuatu?.”
Laila tertawa mendengar nada suara ayu yang merajuk
“.becanda sayang, iya nanti mama coba buat pulang cepet ya. Semoga aja pasien hari ini gak banyak.”
“.oke deh, i love you mam.”
KLIK...
Ayu menutup teleponnya
Ayu menatap keluar jendela kamarnya, rintik hujan membasahi seluruh taman bunga kesayangannya
“.wah, kalo ujan terus. Bisa-bisa bunga mataharinya mati lagi, belum lagi bunga mawarku duh.. rontok deh kelopaknya.” Ujarnya sambil terus menatap.
Lalu ayu menatap bayangannya di kaca jendelanya “.rasanya sepi banget ya, pengen deh punya pacar. Pasti bisa nelpon dia sekarang.”
Tiba-tiba saja, bayangannya berubah jadi sesosok wanita lain.
Ayu terperanjat hingga jatuh
“.si.. siapa dia?.”
Sosok wanita yang tertunduk itu memegang kaca seakan ingin keluar.
Ayu melangkah mundur berlahan ‘ada apa dengan aku? Apa aku sudah kehilangan akalku? Kenapa aku terus saja melihat wanita ini’
Tok.. Tok...
Ayu stontan menoleh ke pintu lalu melihat kekaca lagi yang ternyata sudah kosong.
‘aku memang sudah gila’ ujarnya dalam hati lalu membuka pintu rumahnya
“.mam, akhirnya mama pulang juga.” Ujarnya lega
“.emangnya ada apa?.”
“.tadi ad...” tiba-tiba saja dia menghentikan ucapannya “.never mind.”
“.kamu itu kecape’an, mama kan udah bilang jangan berhenti minum obat dari mama.”
“.iya ma.”
Keesokkan harinya ayu terlambat masuk kekantornya
“.kamu kenapa?.” Tanya tania sambil menggeser bangkunya “.gak biasanya terlambat kayak gini.”
“.aku gak bisa tidur semalam.”
“.berantem ama pacar kamu ya?atau ada masalah dengan mama kamu?.”
Ayu menggelengkan kepalanya
“.entah kenapa, semalaman aku merasa ada yang mengawasi.”
Tania makin mendekati ayu “.ada orang yang nerror kamu? Kenapa kamu gak laporin aja.”
“.aku juga gak yakin itu orang atau ada yang lain.” Kata ayu
Tania terdiam sejenak “.mungkin kamu sudah terlalu lelah dan mumet.” Ujarnya sambil merangkul ayu mencoba menenangkannya “.bagaimana saat liburan kantor nanti kita liburan ke palembang aja. Kotanya indah banget.”
“.boleh juga, aku memang gak pernah keluar kota sebelumnya.”
“.rugi kalo gak pernah kepalembang, mumpung udara disana lagi dingin.”
“.oke deh.”
“.ikutan dong.” Ujar yeni
“.boleh-boleh.”
“.saat pulang jangan lupa bawain pempek ama kemplang ikannya.” Ujar teman ayu yang lain.
“.tenang aja deh.” Ujar ayu.
“.kepalembang?.”
“.iya ma kepalembang, ayukan gak pernah...”
“.enggak, mama gak izinin kamu kesana. Ngapain sih jauh-jauh, disini aja kan bisa.”
“.mam, ayukan juga pengen jalan-jalan keluar kota.”
“.kenapa harus palembang sih? Kamukan bisa ke bandung atau bali.”
“.tapi tania, punya saudara di palembang.”
“.kira memang anak asuh.”
‘aku sudah menduga itu’ ujar ayu dalam hati ‘jangan-jangan dia iri padaku lalu...’
“.begitu juga kamu.”
Ayu terkejut dengan apa yang didengarnya, jantungnya hampir meledak karna berdebar terlalu kencang.
“.apa?aku?anak asuh? Gak mungkin aku anak asuh, lagi pula aku hanya menemukan surat adopsi atas nama kira saja.”lalu ayu terdiam seakan teringat sesuatu ‘atau surat adopsiku sudah terbakar habis?’
“.ayu?! sedang apa kamu?.” Panggil seseorang.
“.aku bersama ibu maryam ma.”
Laila bergegas mendekati ayu dan menariknya “.jangan dekati anakku! Mengerti!.” Laila membentak wanita renta itu dengan keras.
Maryam yang ketakutan langsung bergegas pergi.
“.ayu, apa kamu sudah gila? Kenapa kamu mendekati orang itu?.”
“.memangnya kenapa ma? Bukannya dia dulu pembantu di rumah kita yang lama?.”
“.apanya?mama gak kenal dia, yang mama tau dia itu orang gila yang biasa berkeliaran di daerah ini.”
“.orang gila? Tapi kenapa dia bisa tau tentang aku dan kira? Kenapa dia bilang aku dan kira anak asuh?.” Tanya ayu, dia menatap mata laila dalam-dalam.
“.biar mama ceritain ya kenapa dia bisa tau, itu karena dia menganggap kalian anaknya dan aku Cuma orang yang mengasuh kalian. Tiap kali bertemu kalian dia pasti bilang begitu pada kalian.” Ujar laila dengan sangat marah.
Ayu sempat kaget melihat mamanya yang tak pernah seemosi ini
“.maafin ayu ma, ayu gak tau. Ayu Cuma bingung, banyak hal yang gak bisa ayu terima.”
Laila membelai anaknya mencoba menenangkan “.sudahlah, kita pulang saja ke jakarta.”
“.jangan dulu ma, ayu masih betah dipelambang. Lagi pula ayu pingin mengenang kira disini. Kita pulangnya minggu depan aja ya.”
“.apa gak terlalu lama? 3 hari lagi aja ya?!.”
“.hmm, 6 hari lagi deh.”
“.4 hari, deal?.” Tanya laila sambil mengulurkan tangan.
“.deal deh.” Ujar ayu sambil menyambut jabatan tangan tanda setuju.
“.sayang, maafkan mama. Mama gak maksud memperlakukan kamu begini.”
Laila berdiri lalu mendekati ayu yang baru tersadar
“.kakakmu ranti...” mimik mukanya berubah jadi sangat sedih
‘ranti? Siapa ranti? Apa dia punya anak asuh lain selain aku?’
Laila berjalan dan membuka peti dibawah kasurnya, dan mengeluarkan boneka beruang “.dia anak kesayangan mama dan papa, mama dan papa merawatnya dengan baik sejak dikandungan. Dia anak yang cantik. Mama menghadiahkannya Boneka ini saat dia ulang tahun ke 20 dia sangat senang menerimanya, anak kebanggaanku.” dia memeluk boneka beruang tua yang sudah lusuh dimakan waktu. “.tapi,sejak dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki, dia semakin jauh dengan kami, hanya karna seorang anak brengsek. Dia berani berkata kasar dan membantah kami. Aku tak mau anakku berhubungan dengan brandal itu.” laila membuang boneka beruang lalu berlahan duduk dilantai “.aku menasehatinya sebisaku, tapi dia tak mau dengar. Dia terus bilang ‘mama aku mencintainya, aku mencintainya’ aku terpaksa mengurungnya dikamar. Tapi dia tetap saja berkeras untuk tetap berhubungan dengannya. Kami terpaksa mengizinkannya dan ternyata apa? Lelaki itu mengkhianatinya, diapun depresi dan...” laila menatap keluar jendela “.dia bunuh diri, dia loncat dari atap rumah kita dan meninggal.” dia menghela nafas lalu duduk dibangku kayu dekat jendela “.dan kau tau kemalangan apa lagi yang menimpa kehidupanku?.” laila menatap ayu seakan menunggu jawaban “.papamu, orang yang paling aku cintai.” laila terdiam sejenak seakan berat menceritakannya “.dia mengkhianatiku, dia pergi dengan wanita muda simpanannya. Dia lebih memilih pelacur itu dibandikan aku! Istrinya!!.” laila berteriak sambil menghentakkan kakinya dengan kesal lalu dia meneteskan air mata, dia menatap ayu lalu tersenyum “.hidup mama bagai dineraka saat itu, kesendirian, kesunyian dan semua kepedihan itu menyiksa, Hingga akhirnya aku bertemu dengan kalian berdua dirumah panti. Aku merasakan bahagia yang sudah lama hilang, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus menjaga kalian hingga kalian mati, aku tak mau ada pengkhianatan yang merebut bidadari-bidadari kecilku.” Dia kembali mendekati peti lalu mengambil sesuatu “.tapi, ketika aku melihat adikmu menggenggam tangan seorang lelaki. Ketakutan itu muncul.” Dia berbalik dan menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya “.aku tak mau kehilangan orang yang paling aku cintai lagi. Tidak kali ini. Umurnya baru 19tahun, dia tak boleh mati sia-sia.” Dia tersenyum, senyumnya membuat ayu ketakutan “.lalu aku membunuhnya.” dia mengeluarkan pisau penuh noda darah yang mengering.
“.AACK...”
Ayu memekik ketakutan.
“.tuhan memang sayang pada keluargaku, dia buat kamu amnesia dan melupakan semua peristiwa itu. Lalu kita hidup bahagia berdua, sampai saat ini.” Laila menyeringai “.akhirnya aku bisa menyelamatkan kira anak kesayanganku dari dunianya yang kejam.”
“.menyelamatkan dari apa? Kau membunuh adikku!.”ayu berteriak, air matanya mengalir. Tapi ayu terus menatapnya dengan kebencian.
“.sayang.” laila mendekati ayu
PLAK...
Laila menampar ayu dengan keras, sakit yang dirasa oleh ayu tak dapat dibandingkan dengan rasa kehilangan yang ayu rasa. Ayu kembali menatap pembunuh itu dengan kejam. Dia tak bisa membuat ayu takut sekarang.
“.jangan pernah berteriak pada mama!.” Ujarnya dengan marah “.bukankah lebih baik dia mati ditanganku daripada dia mati sia-sia?. Lagipula kalian berdua yang memaksaku melakukan itu, begitu kan?.” Laila membuang pisaunya lalu mengambil alat suntik dari sebuah laci.
‘Apa? Apa maksudnya?mimpi itu? Apa mimpi itu yang dibicarakannya? Aku dan kira yang bersusah payah lari dari seorang wanita yang memegang pisau, ternyata wanita itu dia’ ayu menatap laila tak percaya.
“.mama sayang sekali dengan kamu, mama gak mau kamu mengalami hal yang sama dengan ranti. Mama ngerti kamu dan adikmu mencintai mereka, aku ini seorang ibu, aku tau apa yang terbaik bagi anak-anakku. Makanya aku ingin menyelamatkan kalian dari perasaan kecewa karna dikhianati.” Dia kembali tersenyum dan memeluk ayu.
Ayu memberontak dan mendorongnya,
Ketakutannya berbisik padanya ‘aku harus pergi.’
Tiba-tiba saja ayu terjatuh seperti tersandung sesuatu
‘.mau kemana?.”ujarnya sambil terus menggenggam kaki ayu dengan keras. Dia meraih mengambil alat suntik yang jatuh tak jauh darinya.
Dengan panik ayu menendang-nendangkan kaki ‘Aku harus lari. Aku harus lari...’
KRIKK...
Suara pintu berderit
Ayu melihat pintu gudang yang berlahan terbuka, gudang yang menakutkan bagi ayu .
Ada sesuatu yang merangkak keluar dari sana, rambut panjang terurai. Tangannya yang berlumuran darah, pakaian itu?!
‘Kira?’ tanya ayu dalam hati
Dia menatap ayu dengan matanya yang merah.
Ayu terbelalak menatapnya, dia tak bisa berkata-kata.
Kira terus merayapi lantai seakan ingin segera mendekati ayu.
“.aaack!.” rasa sakit di kaki ayu rasakan
dia menyuntikkan sesuatu pada ayu.
Kira makin mendekati ayu, matanya tak henti menatap ayu. Darah berlahan keluar dari mata dan mulutnya. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu. Dia menyeret tubuhnya yang penuh luka.
Kepala ayu berdenyut keras, pandangannya mulai tak jelas. Ayu mengulurkan tangannya pada kira. Ayu tak mau kira merasa dirinya sendiri lagi karna dalam hati ayu, dia tak sadar kalau dirinya terus merindukan kira.
“.kira, adikku, maafkan aku.” aku meneteskan air mata.
Kira tersenyum, dan meraih tangan ayu.
Tiba-tiba Semuapun menjadi gelap.
“.lampu mati?.” Ujar laila, lalu dia menatap ayu yang pingsan dihadapannya. Kilatan petir membantunya melihat ayu dengan jelas.
Kilat menyambar lagi, sepasang mata menatapnya dengan tajam.
“.aack!!!.” laila berteriak kencang, dia termundur, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya “.ki kira? Tak mungkin.” Dia menggelengkan kepala beberapa kali berusaha meyakinkan dirinya. “.dia sudah mati tak mungkin dia...”
Kilatan ketiga memperlihatkan ayu yang tak berdaya terbaring dilantai
“.berhentilah berhalusinasi, aku harus menyelamatkan bidadari kecilku. “ Laila menyeret ayu “.cepat... cepat...” ujarnya dengan lantunan nada lalu mengikat ayu di sebuah bangku kayu.
Ma...
Laila berbalik, dia merasa ada yang memanggilnya. Dia melihat kesekitarnya tapi tak menemukan siapapun disana. Dia kembali mempererat ikatan ayu.
Mama...
Laila mendengar lagi suara yang memanggilnya, lalu terdengar suara cekik anak kecil disertai dengan kayu yang menderit berulang, seakan ada yang berlari di atasnya.
Rasa penasaran dan takut ada orang lain yang melihat, laila mencari asal suara itu dan mengejar sepintas bayangan sesuatu yang melintasinya diantara lorong-lorong rumahnya.
BRAK...
Suara pintu tertutup kencang.
Laila tau ada seseorang yang sengaja menutupnya dengan keras, pasti ada orang lain dirumah ini. Laila menggapai gagang pintu.
“.AYU?!! AYU?!!.” Ada seorang lelaki yang meneriaki nama ayu, laila menunda rasa penasarannya dan mengendap-endap mendekati orang yang berani masuk ke rumahnya tanpa permisi.
“.AYU??!!.” yuka melihat kesekitarnya dan tak menemukan siapapun yang menjawab “.apa aku ditipu oleh wanita itu?.” Ujarnya.
“.ayu dalam bahaya.” Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang bicara pada yuka.
Yuka berbalik dan hanya melihat bisa melihat bagian punggung wanita itu “.apa maksud kamu?.”
“.ayu dalam bahaya, mama akan membunuhnya. Kamu harus menolong ayu.” Lalu wanita misterius itu melangkah pergi.
“.hei... hei...” yuka berusaha memanggil wanita itu tapi tak dihiraukan.
‘gimana kalau itu memang benar?’ ujarnya dalam hati ‘ah, paling Cuma kejahilan yang lain’ ujarnya lalu melangkah ‘kalau memang benar akibat bisa sangat fatal’ kata hatinya tiba-tiba. Dia menghentikan langkah, ‘tak ada waktu untuk berfikir, yang penting pastikan dulu ayu tak teramcam’ yuka langsung berbalik dan berlari menuju rumah ayu.
‘jangan-jangan aku memang dibodohi lagi’ Ujarnya dalam hati.
DUK DUK DUK
Terdengar suara aneh diatas kepalanya, seakan-akan ada sesuatu yang berbenturan dengan lantai.
Disaat yang bersamaan ayu berusaha keras menghentak-hentakkan kursi kayu yang mengikatnya, dia yakin mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Lakban menghalanginya menjawab panggilan itu.
Yuka mencari tangga yang menuju ke lantai atas.
“.ayu?.” yuka terperanjat melihat ayu yang terikat dengan dipenuhi luka dan darah.
Ayu makin memberontak dan mengeluarkan suara aneh, seakan menandakan sesuatu.
BRAK...
Yuka yang masih bingung dan kaget terpental dan terguling ditangga karna menerima pukulan keras yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Laila turun dan melihat keadaan orang yang hampir merusak rencana sucinya tergeletak berlumuran darah. Dia tertawa kencang, merasa bahagia menatap kekalahan yuka.
Mendengar suara tawa laila yang mengerikan membuat harapan ayu pupus dan makin panik, dia membentur-benturkan kursi kayu yang mengikatnya dengan keras dan bergegas. Dia menangis sejadinya karna terlalu panik dan khawatir dengan yuka.
“.sayang?.”
Ayu terkejut dan melihat laila sudah berdiri didepannya dengan pemukul kasti yang berlumur darah ditangannya.
Laila mendekati ayu
“.oh sayang, jangan nangis dong. Mama gak maksud buat kamu kaget. Mama minta maaf ya.” Ujarnya lalu memeluk ayu.
Ayu makin mengalirkan air mata dan terisak.
Laila melepaskan penutup mulut ayu.
“.mama, ayu takut ma.” Ujar ayu menatap mamanya
“.maafin mama sayang, setelah ini semua berakhir kita pasti bahagia selamanya. Setelah mama merekatkan sidik jari orang itu dipisau itu, mama akan menusukmu. Sedikit sakit sih sayang, tapi mama akan menusuk kamu dengan cepat agar kamu tak merasakan sakit, seperti kira. Mama yakin dia berterima kasih pada mama saat ini. Makanya dia selalu memanggil-manggil mama. Setelah itu mama baru menusuk diri mama dan kita akan bersama-sama lagi. Kamu, kira, ranti dan mama.” Ujar laila sambil membelai ayu.
Ayu mengumpulkan tenaganya lalu berkata “.mama, ayu pengen mama peluk untuk yang terakhir kalinya.” Ujar ayu, dia berusaha menekan kuat rasa takutnya.
“.oh sayang.”laila memeluk ayu dengan erat.
“.ayu sayang mama.”
Ayu berdiri dan sekuat tenaga mendorong laila hingga menabrak dinding, keduanya jatuh. Tapi ayu berusaha kabur tapi laila langsung menarik kaki kursi yang menyulitkan ayu bergerak. Laila menegakkan kursi kayu itu dengan benar dan mulai memukul ayu.
BAG.... BUG....
“.berani kamu menipu mama!.” Laila sekuat tenaga memukul muka ayu, hingga ayu yang masih terikat terjatuh dan kursi kayu itu hancur karna terhempas keras.
Kali ini laila menendangi ayu “.kamu buat mama benar-benar marah, gadis kecil.”
BRAK!!!!
Suara pintu terbanting membuat laila menghentikan penganiayaannya, siapa lagi kali ini yang mengganggunya. Laila menatap pintu gudang yang terbuka lebar.
NGIIITT....
Suara deritan terdengar,
Laila melangkah maju, rasa penasaran mendorongnya untuk melihat apa yang akan keluar dari ruang itu.
Mama...
Suara panggilan yang merintih memanggil laila lagi
“.kira?.” ujarnya penuh tanya.
Sebuah tangan yang kurus, pucat dan lusuh keluar dari ruangan yang ternyata gudang.
Kenapa mama? Kenapa mama membunuh aku, anak kesayanganmu?
Suara mengerikan itu membuat ayu dan laila terpaku
Terdengar lagi suara tangisan terisak-isak.
“.ki.. kira.. mama Cuma ingin kamu bahagia.”
18 September 2007
BEHIND THE DOOR by darkangel_rocks
Diposting oleh
Harry
di
10.59
1 komentar
STUPID GIRL
Menyebalkan, itu saja kata yang paling tepat kalo dijejerkan dengan sekolah. Sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu saat ini. Zaman sekarang sekolah sudah menjadi ajang show upnya anak kaya dan bergaya. Bagi yang Cuma modal otak langsung ditendang dari list anak gaul. Gak bakal punya temen deh. Ya termasuk aku ini, cewek lemah, cengeng yang gak bisa gaul. Masih untung punya vitra, teman sebangkuku.
“.lagi ngapain ran?.”Tanya sambil duduk disampingku “.hmm, nulis diary lagi ya.”
“.tuh tau! Ngapain nanyak.”
“.iseng aja!.”
“.eh ada guntur tuh.”
“.hah? dimana?.”ujarku sambil clingak-clinguk mencari sosok guntur.
“.guturnya blon datang tau!.”
“.dasar! trus apa maksudnya?.”
“.he he...” vitra nyengir.
Istirahat, aku bermaksud kekantin dan membeli makanan kecil tapi saat dipintu kelas
BRUK....
Aku terjatuh
“.aduh, dek kirana. Jatuh ya?! Kamu sih ren pake naro’ kaki sembarangan.”
“.iya sih si iren kan kasian dek kirana jatuh.”
Aku diam, mereka kakak kelas yang paling dibenci satu sekolah oleh para cewek. Mereka sering banget mengusili aku.
“.sis, bantuin dong adek kita ini.”
“.iya juga ya. Kan kasian.” Siska langsung mencengkram rambut ku dan memaksa untuk segera berdiri.
“.tuh, baikkan aku.”
Ketiganya tertawa, melihatku merintih kesakitan.
“.HEH!SISKA!!!.”teriak seseorang “.LEPASIN!.”perintahnya lagi.
Siska langsung melepas cengkaramannya begitu melihat muka cewek yang tadi berteriak.
“.loe pikir, loe bisa seenaknya disekolah ini! Apa sih mau loe! Jangan Cuma berani ngagu orang, coba loe ganggu gue!.” Ujar kak wulan.
“.ma maaf kak!.”ujar siska lali bergegas pergi
“.dasar!cewek-cewek genit, gak ada kerjaan!.”.
Kak wulan menatapku “.loe gak pa pa kan!.”
Aku menganggu’ pelan.
“.ya udah kakak kekantin duluan ya!.”
Aku mengaggu’ lagi.
Aku hanya bisa memandangi pahlawan wanita ku berlalu, kak wulan itu pahlawan bagi cewek lemah seperti aku. Dia sering membela orang yang teraniaya oleh kelompoknya siska. Dia itu idolaku. Dia punya rambut panjang yang hitam dan indah, dia juga tinggi, putih dan cantik. Disukai oleh para cowok, banyak temen. Gak seperti aku yang cengeng, penakut, lemah dan ceroboh setengah mati. Hah! Jauh kalo mau dibandingin kak wulan.
Suatu hari aku terburu-buru membawa 2 bungkus es jeruk pesanan guru. Hingga langsung belok tanpa lihat kiri-kanan dan
BRAK....
“.aduh...”aku merintih kesakitan.
“.heh goblok! Gak liat ada orang!.”
Aku buru-buru minta maaf “.ma maaf...” lalu membersihkan air yang membasahi mukanya dengan sapu tanganku.
Cowok tadi langsung menolak dengan sadis “.loe bikin mood gw jadi jelek tau!.”
Mati deh, diakan kak jaka. Orang paling ditakuti satu sekolahan.
Kak jaka tampak sangat kesal “.loe denger ya! Mulai saat ini loe harus jadi bawahan gw!atau gw buat loe malu seumur hidup. Ngeti gak?!.”
Aku langsung menganggu’
“.bagus!besok loe harus datang lebih pagi dan tunggu gw digerbang sekolah. Jangan ampe telat!.”
Aku menganggu’ lagi dengan cepat.
“.sekarang sana pergi. Gw enek liat muka loe!.”
Aku lari pontang-panting.
“.gila!.”ujarku sambil mengambil buku dan mengipasnya ketubuhku.
“.ada apa?.”tanya vitra
“.aku gak sengaja nabrak kak jaka.”
“.apa?.” vitra kaget
“.aku takut banget.”
“.kamu diapain sama dia?! Terakhir kali orang yang nyenggol bukunya aja, dia tonjok ampe pingsan.”
“.apa?!.”kali ini aku yang terkejut
“.iya, pernah juga ada cewek yang gak sengaja salah nyebut namanya langsung diteriakkin ama dia!.”
Aku terdiam
“.kamu apain dia?!.”
Pertanyaan vitra membuat lidahku kelu untuk berkata “.hmmm.”
Vitra diam menunggu jawabanku
“.aku nabrak dia dan numpahin es jeruk kemukanya.”
“.apa?!! mampus ran. Kamu bisa mampus. Trus reaksi dia gimana?!.”
“.dia bilang kalo aku harus jadi bawahan dia gitu kalo aku gak mau aku bakal dibuat malu seumur hidup.”
Vitra diam, dia tak bisa berkata apa-apa lagi “.kamu harus selalu ati-ati ya. Kak jaka tu nyeremin. Gak ada yang berani ama dia. So, apapun perintah dia lakuin aja. Daripada kamu bakal diolok-olok ama anak-anak sesekolahan. Tapi kalo diperintahkan buka baju jangan mau!.”
“.ya iya lah! Aku juga gak bakal mau kali tra.” Ujarku tertawa kecil
Begitu sampai dirumah aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhku yang lelah.
“.dek?!!.” panggil kak martin
“.kenapa?.”
kak martin nongolin kepalanya dipintu kamar “.boleh masuk gak?!.”
“.masuk aja kak!.”kataku sambil memijat dahiku yang penuh sesak dengan palajaran.
Kak martin masuk berlahan lalu duduk disampingku.
“.dek, balesin surat-surat lagi dong.”
“.surat lagi?!.” Ujarku kaget
“.duh dek, tolong deh!.”
“.kakak ini udah ke 3 kalinya kakak begini.”
“.baru 3 kali dek.”
“.iya emang baru 3 kali tapi suratnya ada 5. itung aja sendiri berapa jadi serapa surat?.”
“.15.”
“.nah, bisa patah tangan adek.”
“.mo gimana lagi!.”
“.makanya gak usah deh jadi model. Keluar aja dari modeling. Tiap bulan ada aja deh surat yang mampir ditangan kakak.”
“.mana bisa! Kakak emang cocok dibidang itu.”
“.trus...”
“.kali ini aja deh.”
“.betul ya Cuma kali ini aja.”
“.iya, paling mereka kakak suruh nembak lewat sms.”
Aku langsung menjatuhkan diri seakan pingsan.
“.tolong dong dek.”
“.iya-iya! Isinya gimana?.”
“.kayak yang kemaren-kemaren aja.”
“.yang isinya ngasih tau kalo kakak gak bisa nerima dia karna alasan pekerjaan yang puadat setengah mampus?.”
“.yap!.”
aku menganggu’ pelan
“.makasih ya adek ku yang paling muanizzz.”ujar kak martin sambil mencium keningku “.kamu belon mandi ya? Ih bau tau! Mandi gih.”
Aku diam “.masih mau aku tolong atau enggak sih.”
Kak martin tersenyum “.iya deh, maaf-maaf.”
“.dek...” satu lagi teriakkan dari kakak lelakiku yang lain.
“.kenapa kak laz.”
“.temenin kakak beli buku.”
“.beli buku? Oke! Tunggu bentar. Aku mau mandi dulu.” Ujarku langsung bergegas mandi.
Kak martin kakak pertamaku yang paling sibuk. Ya sibuk modeling tapi juga disibukkan oleh para cewek. Para penggemarnya itu sering sekali mengirim coklat dan surat cinta tapi selalu aku yang jadi korban kejahatannya. Kak martin yang berkulit putih, bertubuh ideal dan ganteng itu sangat digilai oleh cewek ABG apa mereka gak tau kalo umurnya udah ampir 26. kak lazu lain lagi, kakak keduaku ini paling suka basket dan buku. Walaupun penggemar ceweknya juga buanyak buanget tapi dia gak pernah menanggapi mereka. Sikapnya yang dingin malah membuat mereka makin tergila-gila dengan kak lazuar. Kak lazu dan kak martin kuliah ditempat yang sama. Mereka malah dijuluki ‘twins prince’. Sedangkan aku? Jangan ditanya deh. Aku Cuma anak bungsu yang gak bisa apa-apa selain jadi korban kejahilan mereka berdua.
“.mo beli buku apa kak?.” Tanyaku begitu sampai dimall
“.kamu lupa ya?.”
“.lupa apa?.”
“.2 minggu lagikan martin ulta.”
“.o iya.”
“.mama punya rencana mau buat pesta gitu.”
“.kak martin tau?.”
“.dia sih tau. Kakak rencananya mau cari kado buat dia. Kamu juga kan.”
“.tentu aja.”
“.diakan lolos masuk seleksi.”
“.seleksi apa?.”
“.duh dek, kemana aja sih. Dia ikut audisi model diparis, kemaren dia terima kabar kalo dia bisa jadi model disana. Ya sekalian terusin kuliah disana gitu.”
“.apa? ya masak kak martin mo ninggalin kirana sih!.”protesku
“.udahlah, kan masih ada kak lazu.”
Aku diam
“.udah deh, sekarang kita nyebar dan cari kado masing-masing ya. Kita ketemuan difast food.okey!.”
“.iya deh.”
Bagusnya kado apa ya? Boneka aja! Tapi, pasti penggemarnya ngasih boneka juga.
Aku makin bingung begitu melihat beragam benda ditoko.
‘Sampaikan pesanmu lewat boneka perekam, rekam suaramu dan sampaikan pada-nya’
wah keren juga. Aku bisa ngerekam pesanku buat kak martin.
Aku bergegas mendekati boneka yang tinggal satu-satunya. Tanganku mencoba meraihnya tapi tiba-tiba sebuah tangan ikut hinggap ditanganku.
Aku spontan menoleh orang itu.
Eh, ganteng.
Aku langsung menunduk malu.
“.kamu juga mau beli ini ya?.”
Aku menganggu’
“.ya udah, buat kamu aja deh.” Ujarnya sambil menyodorkan boneka tadi.
Aku menerimanya dengan tetap tertunduk malu.
“.kenapa nunduk terus? Kepalanya berat ya?.”
“.ma makasih.” Aku langsung bergegas pergi dan membayar boneka itu.
Duh, deq-deqkan banget. Tuh cowok ganteng deh.
Aku bergegas ketempat yang kami sepakati.
“.beli apa dek?.”tanya kak janu sambil meminum es cappucinonya
“.boneka. keren deh kak! Kita bisa ngerekam semua pesan kita.”
“.o ya, kakak Cuma beli Novel.”
“.Cuma gitu doang!.”
“.iya, tapi tebelnya wuh! Kira-kira 600 lembar.”
“.wah, gimana bacanya tuh.”
“.he he he.”
“.pulang yuk! Mama pasti masak, adek dah laper berat nih.”
“.oke kita pulang.”
Besoknya aku bergegas kesekolah, takut telat. Bisa mampus kalo telat. Aku lihat kak jaka sudah berdiri dengan kesal digerbang sekolah.
“.loe lama banget sih! Gw capek nungguin loe!.”ujarnya setengah berteriak.
Aku diam dan terus menunduk.
“.nih bawa tas gw!.” Dia melempar tasnya padaku lalu berjalan.
Akupun segera berjalan mengikutinya.
Sampai dikelasnya
“.entar istirahat loe beliin gw es alpukat campur jeruk nipis, ama pempek 3.ngerti gak?!.”
Aku menganggu’ lalu berbalik, berniat pergi.
“.eh mau kemana?.”katanya
aku berbalik lagi
“.loe mau bayar pake apa?! Dasar tolol!.” Kak jaka merogoh kantongnya lalu memberikan beberapa lembar uang.
Aku sempat bengong melihat kak jaka yang menyodorkan uangnya.
“.cepet ambil!.”
“.i iya.”
“.sekarang keluar deh! Terserah mau ngapain. Tapi yang pasti entar pulang loe harus tunggu gw disini.”
Aku menganggu’ lalu pergi.
Aku duduk lemas dibangkuku
Aneh?! Mana ada preman yang ngasih duit buat makan, biasanya dia menggunakan uang orang buat kepuasan diri. Tapi ini kok?!
“.wei!.”
“.eh, vi.”
“.ngapain bengong sendirian.”
“.gak pa pa.”
“.gimana? tugas pertama kamu.”
“.ah masih enteng, Cuma disuruh ngangkat tasnya ampe kelas trus ngebeliin dia jus ama makanan.”
“.kasian, kamu masih punya uang buat pulang.”
“.aku gak pake uang ku.”
“.lantas?.”
“.dia ngasih uang ke aku buat beli pesenannya.”
“.orang yang aneh ya.”
“.iya, kamu tau ngak! Tasnya berat banget.”
“.o ya, mungkin dia bawa buku, diakan anak paling pinter sesumatra. Belum ada yang bisa ngalahin dia dalam bidang fisika, matematika, kimia dan biologi.”
Ya ampun, pelajaran yang paling ditakuti umat seantero raya.
“.sebenernya dia ganteng, manis, dan pinter lagi. Tapi ya itu tadi karna dia terlalu menyeramkan membuat semua itu sirna begitu aja.”
Aku menganggu’ mencoba mengerti.
Sepulang sekolah
“.heh!.” tegur seseorang dibelakang kirana dengan suara lantang “.ni hari loe harus nemenin gue nyari buku.” Ujar jaka sambil melempar tasnya.
Aku segera menangkap tas jaka walau agak terbata “.ta tapi, bukannya tugas aku selesai ka kalo udah pulang sekolah.”
“.loe denger ya! Dimana-mana pembantu ikut kata majikan. Nama loe siapa sih?!.”
“.kirana...” jawabku sambil tertunduk.
“.kirana? alah terlalu bagus. Mulai sekarang gue manggil loe ana aja atau inem atau ijah atau juga partih aja yah?.” Ujar jaka seakan berfikir “.hmm... gue panggil loe inem aja deh lebih cocok ama tampang loe yang cupu. Setuju gak loe?.” Tanyanya sambil menatap ku sadis.
Aku hanya bisa menganggu’ pelan.
‘wah, payah! Susah-susah bonyo’ nyariin nama yang baik eh malah dipanggil inem, untung bukan sarinem’ aku menggerutu dalam hati.
“.ayo, buruan deh!.” Ujar jaka langsung pergi
kirana membuntutinya
Disebuah toko kue, jaka duduk sambil meminum jus buah dan memperhatikan orang yang berlalu lalang. Sedangkan kirana hanya diam dan menundukkan kepala.
“.loe punya penyakit ya?!.”
Aku mengangkat kepala sedikit, saat melihat mimik muka jaka yang serius. Tiba-tiba saja kepala ku terasa berat.
“.aku gak ada penyakit apa-apa.”jawabnya pelan.
“.jadi kenapa loe selalu nunduk, kayak kepala loe tu berat banget gitu. Apa loe gak capek nunduk terus?.”
Aku diam
“.nah itu penyakit kedua loe, bisu!.” Ujar jaka dengan nada sinis “.ah, lumayan lah. Daripada gue gak punya temen ngobrol sama sekali.” Lalu jaka meminum jusnya lagi.
‘temen ngobrol?Aku?gak salah?’kata ku dalam hati.
Jaka mengambil tasnya lalu bangkit dari bangkunya “.besok jangan ampe telat. Awas kalo loe ampe telat.”ujarnya sambil menatap kirana dengan sadis “.denger gak?!.”
“.i iya.”
“.gue mau pulang. Loe bisa pulang sendiri kan!.”
“.iya.”
“.bagus, gue males nganter loe.”lalu jaka melangkah pergi.
Aku melihat jaka yang pergi, saat itulah baru Aku bisa bernafas.
‘sumpah, bener banget kata vitra. Dia emang ganteng abis, cool lagi. Sayang, galaknya minta ampun’
Aku mengambil tas lalu pulang.
“.enggak, aku gak mau putus!!.”teriak seorang cewek di seberangan jalan yang aku lalui.
“.jadi mau loe apa? Gue udah males pacaran ama loe!.”ujar seorang cowok.
“.tapi aku masih sayang banget ama kamu.”
“.dan gue enggak!.”
‘gila tu cowok enteng banget ngejawab begitu’ ujarku dalam hati
“.udahlah mendingan loe pulang aja. Dan lupain semua okey.”
“.enggak, aku masih sayang kamu.”
“.loe gak bisa ngerti juga ya?gue dah punya yang laen. Gue cinta ama cewek yang laen!.”
Aku yang tadinya tak ingin perduli jadi penasaran dan ingin menoleh.
‘loh?cowok itukan yang kemaren ketemu aku ditoko boneka itu’
Cowok yang sangat marah ama cewek dihadapannya tak sengaja melihat aku yang berdiri terpaku melihat mereka.
Tentu saja aku kaget dan langsung melihat kearah lain ‘Mati gue!dia ngeliat gue. Duh bisa dimaki-maki nih’ ujarku lalu mulai berjalan pergi.
“.eh eh tunggu!!.”panggil cowok tadi.
Aku makin takut dan mempercepat langkahku.Tapi cowok tadi malah mengejar lalu menarik tangan aku.
“.maaf maaf, gue gak maksud nontonin kalian kayak itu. Gue gak sengaja. Maaf.”ujarku dengan ketakutan.
“.gue minta bantuan loe ya!.”ujar cowok tadi.
“.hah?.”Aku bingung dengan ucapan cowok yang tersenyum dihadapanku itu.
Lalu cowok tadi membawa aku kehadapan cewek yang menangis.
“.dia....”cowok tadi langsung merangkul ku “.cewek gue!.”
‘apa?gila ini gila!!’jeritku dalam hati
“.gue udah berusaha ngejelasin semua ama loe tapi loe gak pernah bisa terima, terpaksa gue ngenalin pacar gue yang baru ama loe. Sekarang loe bisa ngertikan.”ujarnya sambil terus merangkul ku.
Cewek itu menatap aku dengan berlinang air mata lalu menundukan kepala “.selamat ya.” Lalu dia berlari pergi.
Melihat itu aku merasa tak enak hati, aku merasa sangat bersalah karna menyakiti hati orang lain
“.makasih ya! Gue sangat tertolong. Gak nyangka yang satu ini susah banget mutusinnya.”
‘nah ini lebih gila lagi. Aku mengagumi seorang playboy kelas kodok. Mending kabur’ aku langsung pergi
“.eh tunggu dulu.”cowok tadi malah menangkap tanganku “.gue mau tau nama loe siapa?.”
‘ihh buat apa? Mau dijadiin korban selanjutnya?’ujarku dalam hati sambil terus berjalan.
“.kok gak jawab?! Nama gue ribon. Loe yang waktu itu ditoko boneka itu kan.”
aku tak menjawab
Ribon malah menarik tanganku dan berdiri dihadapan ku
Aku menundukan kepalanya
“.makasih ya atas bantuannya. Sebagai tanda terima kasih loe boleh minta apa aja dari gue. loe mau makan malem ama gue atau kita jalan bareng?atau kita pacaran aja?gimana? kita pacaran 3 minggu. Ya gak pa pa lah buat loe gue lebihin seminggu dari jatah cewek-cewek lain.”
Mendengar itu aku jadi emosi.
“.APA? loe pikir gue cewek apaan?gak punya harga diri?!.”teriak aku.
Ribon kaget mendengar perkataanku, begitupun aku. Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku lalu langsung berlari pulang.
“.eh, tawaran tadi masih tetap berlaku loh. Kalo loe minat bilang aja!!.”teriak ribon.
‘ya ampun aku ketemu ama orang gila’ujarnya berlari makin kencang.
Sampai dirumah
“.hai dek?! Gimana di sekolah.”tanya martin
Aku nyelonong masuk kekamar tanpa memperdulikan sapaan selamat datang kakakku.
“.dia kenapa?.” Januar jadi ikut bingung.
“.apa dia ada masalah disekolahnya?.” Tebak martin
“.coba kalian tanya, mungkin dia memang ada masalah.” Ujar ayah mereka.
Martin dan januar langsung bangkit dan menghampiri kamar aku
TOK...TOK..
“.dek?.”panggil januar
“.hmm?.”jawab aku dengan malas
“.boleh masuk gak?.”kali ini martin yang bertanya
“.emang kakak mau ngapain?.”
“.lagi kangen aja ama adek.”
“.alah, aneh banget sih.”
“.boleh ya dek.”
“.iya masuk aja kak.”
Martin dan januar masuk berlahan.
“.adek kenapa?.”tanya martin yang duduk disofa beruang.
“.iya nih, kayaknya suntuk banget.”januar duduk disamping ku yang juga duduk dengan muka kusut diranjang serba biru.
“.gak ada apa-apa kok. Kalian terlalu khawatir tau ngak!.”
“.apa loe digangguin ama sisiska itu?.”tanya martin
“.siska?siapa siska?.”ujar Januar bingung
“.orang yang sering banget gangguin rana disekolahnya.”
“.loe tau kok diem aja tin. Seharusnya loe gebukin dia biar dia gak gangguin adek kita lagi.” Kata januar marah
“.gak usah loe kasih tau juga pasti gue lakuin, masalahnya adek kita yang satu ini gak mau ngasih tau yang mana orangnya.”
“.iya kak. Rana gak mau buat masalah. Cukup tio aja yang kalian hajar ampe masuk rumah sakit dan makasih buat kalian rana terpaksa pindah sekolah.”
“.he he, maaf deh dek.”martin cengengesan
“.namanya juga membela adek kesayangan. Iya gak tin.”
“.iya banget.”
“.tapi akibatnya fatal kak.”
“.oke deh, kakak gak bakal ikut campur lagi.”
“.sekarang cerita aja kenapa rana keliatannya murung.”
“.Cuma gara-gara banyak PR aja kok. Duh ampe puyeng kepala rana.”
“.tenang aja, kakak pasti bantu. Kita bantuin loe ampe bener-bener selesai trus kita bertiga jalan ke mall gimana?.” Usul martin
“.boleh juga.”ujarku
Lazuar hanya tersenyum lalu menganggu’kan kepala “.apa sih yang enggak buat adek gue yang paling imut ini.”ujarnya sambil memeluk ku.
“.I love you guys. You’re the best deh pokoknya.”kata ku tersenyum
alarm jam beker dikamar ku berbunyi kencang, mencoba membangunkan ku yang terlelap.
Dengan mata yang masih sayu karna terlambat tidur semalam, aku menggapai jam bekernya.
“.AAAAAAAAAcckkk!!!!!.”teriak ku mengagetkan seisi rumah.
“.kirana kenapa?.” Tanya ibu resti sambil menyiapkan sarapan.
“.gak tau tuh.” Ujar martin.
Ayah hanya menggelengkan kepala.
Tak lama aku bergegas turun, hingga tak hati-hati dan jatuh ketika mau melewati 2 anak tangga lagi.
BRUK...
“.aduh!.”
Seketika itu juga kakak-kakakku bangkit dan bermaksud membantu ku berdiri.
“.gak pa pa kok. Tenang aja!.”aku berdiri sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan semua orang yang duduk dimeja makan. “.kirana pergi sekolah duluan ya!!.” Ujarku sambil melambaikan tangan.
“.gak sarapan dulu na’?.”
“.enggak ah, rana udah telat ma. Rana pergi ya semuanya!!!.” aku langsung berlari pergi.
Martin, januar dan ayah melihat jam bersamaan.
“.TELAT...”teriak martin dan januar lalu keduanya bergegas menelan roti yang ada dihadapannya lalu buru-buru pergi.
“.papa gak telat?.” Ujar ibu resti bingung melihat suaminya yang masih meminum kopi sambil membaca koran dengan tenang.
“.sebenernya papa telat sih.”ujarnya sambil melipat koran.
“.ya udah nunggu apa?.”
“.nunggu semua udah pergi baru papa pergi. Kan malu-maluin aja kalo papa juga ikutan telat.”
Ibu resti tertawa kecil.
Aku berlari tanpa henti, sampai didekat sekolah, aku melihat jaka berdiri dengan kesal digerbang sekolah.
‘mampus gue! bisa dimarahin abis-abisan nih’ aku lemas, lalu berjalan mendekati jaka.
Dengan sangat marah jaka menjitak kepala ku “.dasar goblok! Kok loe bisa telat sih!gue capek nungguin loe disini!.”
“.ma..maaf.”
“.alah udah deh, cepet masuk.” Ujar jaka sambil melempar tasnya.
Aku segera mengambil tas jaka lalu masuk membuntuti jaka.
“.heh kalian berdua!.”teriak guru BP “.kalian telat! Cepat berdiri dilapangan!.” Teriaknya lagi.
Jaka menggaruk kepalanya dengan kesal “.sialan!.” gerutunya.
Aku dan jaka terpaksa berdiri dilapangan yang disirami dengan cahaya matahari pagi.
“.semua ini gara-gara keidiotan loe! Coba kalo loe gak telat, gue udah dikelas saat ini!.”
Aku tertunduk
‘tapi buat apa dia nunggu gue? diakan bisa langsung masuk. Dasar dia aja yang selalu pengen nyusahin gue!.”
Ternyata tanpa sadar nafas ku masih memburu, nafas ku belum kembali normal.
“.Loe kenapa ngos-ngosan gitu? Loe dari rumah lari terus ampe sekolah?.” Tanya jaka
aku mengangguk
Jaka diam
“.maaf, gue gak maksud buat loe kelabakan.”
aku kaget dan menatap jaka ‘maaf?aku gak salah dengerkan’
“.tapi salah sendiri! Gue gak pernah nyuruh loe lari dari rumah loe ampe sini.”
Aku yang tadinya kagum, langsung kecewa mendengar jaka ‘sekali cowok berhati batu tetep aja berhati batu’ kataku dalam hati.
“.ntar loe beliin makanan ma minuman, kayak yang kemaren aja.” Jaka langsung memberikan uang pada ku.
Aku mengangguk
“.jawab dong! Iya kek... maki-maki juga boleh.” Ujar jaka marah
“.i iya..” Aku makin tertunduk.
Setelah beberapa lama mereka diperbolehkan masuk kekelas
“.ya udah kalian sekarang masuk kekelas masing-masing ya.” Ujar salah satu guru BP
“.iya pak.”
“.aduh.”aku meringis kesakitan, aku merasakan sesuatu yang perih dikakiku.
“.kenapa loe?.” Jaka langsung jongkok dan melihat lututku yang ternyata terluka “.kok bisa luka?.”
“.tadi jatuh.”
Jaka menggelengkan kepala dengan jengkel “.ah, dasar!kayak anak bocah loe. Pake jatoh segala.”
‘emang orang dewasa gak pernah jatoh?’aku menggerutu dalam hati.
“.ke ruang kesehatan aja deh.”ajak jaka
“.gak usah deh, ntar kamu telat masuk kelas.”
“.loe berisik banget sih. Emang lebih enak loe bisu aja.”ujar jaka sinis.
Aku menundukkan kepala dan diam.
“.ayo!.” jaka menarikku.
Dengan perasaan gugup aku menatap tangan jaka yang menggenggam erat tanganku itu
Dikelas, aku menggenggam tanganku dan menatapnya dalam ‘ya ampun, baru pertama kali ada cowok yang pegang tangan gue. duh, kok gue masih deg-degkan ampe sekarang ya?’
“.wei!.” ujar vitra seraya memukul bahu ku “.lagi ngapain loe?!.”
“.dasar! sakit tau!.”
“.lagian loe! Kenapa ngeliatin tangan loe mulu’?emang tangan loe panuan ya?.”
“.enak aja.” Kataku ‘gak mungkin mau cerita ama vitra tentang hal ini’ “.ya sebenernya gak ada apa-apa sih.”
“.trus kenapa...”
“.udah deh banyak tanya banget sih.” Kataku lalu membuka buku catatan.
Aku berdiri dibawah pohon rindang, menunggu jaka datang. Entah apa yang membuat anak yang satu itu lama banget. Setiap kali bell pulang dia selalu membuat aku menunggu 15 sampai 20 menit setelah semua orang udah nyantai dirumah mereka.
“.nih, bawa tas gue.”ujarnya sambil menyodorkan tasnya
aku segera mengambil tas itu dari tangannya.
Diposting oleh
Harry
di
10.26
0
komentar




















