“.kira lari…!!!.” Ujar ayu sambil terengah-engah menaiki sebuah tangga.
“.tunggu aku...”ujar seorang wanita dengan muka yang tak jelas dibelakang ayu.
Tiba-tiba saja dia terpeleset karpet dan terjatuh, seorang wanita setengah baya mendekatinya dengan sebilah pisau ditangannya, dia menginjak kira dengan lutunya lalu mengangkat pisau dengan kedua tanganya, dia ingin membunuhnya!!
“.kira!!!.”ayu berteriak, lalu ayu keseimbangan hilang dan ayu terjungkal keluar jendela
BRAK.............
Ayu tersentak bangun, ayu duduk lalu mengedipkan matanya berulang kali.
Bertanya-tanya Apa dia sudah bangun? kenapa dia selalu memimpikan hal yang sama? Dan Siapa kira?
Ayu mengusap mukanya dengan kedua tangannya dan berusaha menenangkan diri.
“.Aku harus segera ketempat kerjaku.” Ujarnya lalu beranjak dari kasurnya.
“.mau minum kopi?.” Tanya tania, teman sekantor ayu.
“.boleh, kopi susu deh. Moodku lagi buruk banget nih.”
“.kenapa?.” dia duduk di samping ayu lalu memasang muka serius.
“.gak ada yang penting, Cuma mimpi buruk yang aneh.” ujarnya sambil tersenyum.
“.mimpi apa?.”
“.kenapa kamu tertarik banget dengan mimpiku?.”
“.Cuma mau tau aja. Kalo aku sih gak pernah.”
“.gak pernah mimpi buruk?.”
“.gak pernah mimpi indah malahan.”
Keduanya tertawa
“.heh, jangan becanda diwaktu jam kerja!.” Kata yeni sambil melotot
“.iya nenek cerewet!.”ujar tania
Yeni tersenyum “.emang mukaku kurang serem ya?.”
“.serem kok! Kayak kuntilanak.”
“.udah deh gak usah ngeledek.”
“.emang kenapa?.” Kata ayu sambil membelai rambut hitam panjangnya.
Ayu tersentak saat sadar akan sesuatu
‘Rambut hitam panjang?’ ujarnya dalam hati. Wanita dalam mimpiku juga berambut hitam dan panjang.
Ayu langsung menarik tangannya
“.ada apa?.”
“.gak pa pa, Cuma....” tiba-tiba jantung ayu berdebar kencang, ada perasaan tak nyaman yang mengganggunya.
Ayu mengaduk tehnya, seharusnya dia bisa menikmati waktunya seusai kerja. Tapi mimpi yang selalu mengganggunya membuatnya penasaran.
Bunyi HP membuyarkan lamunan ayu.
“.halo?.” jawab ayu
“.sayang? udah makan?.”
“.belum ma.” Ujarnya berbohong, dia mendorong sepiring nasi ayam dihadapannya.
“.kamu ke rumah sakit aja, nanti mama tunggu dikantinnya ya.”
“.iya deh.”
“.bye sayang.”
“.bye ma.”
Ayu menutup teleponnya lalu langsung pergi.
“.hai ma.” Ayu melambaikan tangan.
“.sayang. kenapa muka kamu keliatan pucat? Kamu pasti gak makan sarapan yang mama buat tadi pagi ya?.”
“.sarapan?.”
“.aduh, ni anak.” Laila mendorong kepala anaknya dengan telunjuknya “.mamakan udah buat pesan yang mama tempel dikulkas kalo sarapannya mama taro’ di atas lemari.”
“.lagian mama, kenapa pake ditaro’ diatas lemari. Ayu kira mama lupa buat sarapan.”
“.mana mungkin mama lupa buat sarapan. Bidadari mama kan harus terpenuhi gizinya. Masa’ seorang dokter ternama kayak mama gak bisa menjaga anak kesayangannya sih?.”
Ayu tersenyum bangga lalu memeluk ibunya.
“.ayo makan. Katanya belum makan.”
“.iya nih ma.’ Ayu dan laila duduk bersama dan memesan makanan.
Sesosok wanita mendekati ayu
“.Ayu, kamu harus pergi!! Kamu gak boleh bersama mama!! Pergi!!!!!!.” Tubuhnya mulai mengelupas seperti pohon yang mengering, darah keluar dari matanya dan diapun meleleh.
“.AAACKK...” aku terduduk
Tak berapa lama laila langsung masuk kekamar ayu “.ada apa sayang?.” Dia mengusap keringat ayu.
Ayu gemetaran dan berusaha bicara “.dia... dia...” ayu langsung memeluk erat laila dengan erat “.aku takut ma, aku takut.”
“.tenanglah sayang. Sekarang minum obat yang mama kasih sama kamu, kamu pasti lupa minum obat itu.”
Ayu mengangguk lalu meminum obat yang diberikan laila lalu mencoba untuk tidur lagi.
Ayu membuka mata, kepalanya berdenyut kencang, sepertinya mau pecah. Setiap kali meminum obat sebelum tidur, dia pasti mengalami sakit yang luar biasa dikepalanya. Tapi, dengan begitu ayu takkan bermimpi lagi.
Ayu berjalan menuju meja makan dan menemui laila yang meminum kopi gingseng.
“.pagi sayang.” Sapanya
“.pagi ma.” Ayu duduk sambil terus mengurut kepalanya.
“.sakit kepala?.”
“.iya nih ma. Kenapa ya, Tiap kali makan obat itu, paginya pasti pusing.”
“.efek samping aja. Gak bahaya kok. Obat itu kan menyembuhkan penyakit kamu, biar gak parah.”
“.iya deh.” Ayu tersenyum
“.mama langsung ke rumah sakit aja ya. Udah telat nih.”
“.ini kan hari minggu ma.”
“.sayang, orang sakit mana milih hari sih.”
“.oke oke, hati-hati bawa mobilnya.”
“.bye honey.”
“.bye.”
Ayu membolak balik halaman majalah yang sudah lama dibelinya
“.bosan!.”ujarnya, lalu melempar majalahnya dan mulai berjalan “.pengen dirumah aja tapi gak tau mau ngapain.” Ujarnya sambil masuk kekamar laila.
Ayu tidur dikasur empuk ibunya lalu mulai menerka-nerka lagi tentang mimpinya
“.jangan-jangan yang namanya kira itu orang yang benci sama aku? Atau orang gak suka dengan kesuksesan mama. Tapi kenapa dia menghantui aku? Apa dia ingin aku gila?.”
Ayu bangun dan mendekati meja rias dan mulai mengutak-atik kosmetik
“.ih, warnanya cantik banget.” Ujarnya sambil mengagumi lipstik pink muda. Lalu dia meletakkan lipstiknya dan mulai membuka laci.
“.hm?.”ada sesuatu yang mengganggunya
Dia mengambil sesuatu dilaci meja rias, benda itu cukup membuatnya takut dan penasaran “.buat apa mama menyimpan alat suntik dilaci, kira-kira isinya cairan apa ya?.”
BRAK...
Ayu terkejut dan langsung berbalik,
Ternyata hanya angin yang menghempas pintu “.duh, bikin kaget aja.” Ujarnya lalu menaruh kembali alat suntik laila lalu keruang tengah untuk menonton film drama kesukaannya.
“.jangan lari sayang... jangan paksa mama melakukan ini.” Suara itu terdengar jelas mengancam bagi ayu.
Dalam keadaan panik dan kebingungan ayu melihat kesekitarnya yang asing
‘aku harus sembunyi.. dia mau membunuhku’
“.sayang, dimana kamu? Mama Cuma ingin membuat kamu lepas dari penderitaan dunia.” Suara itu makin mendekat.
Ayu langsung masuk keruangan sempit yang ditemukannya pertama kali. Rasa takut memburu nafasnya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Derit lantai kayu terdengar mendekat, jantung ayu berdetak kencang seakan akan meledak.
“.bukan waktunya main petak umpet sayang...”
Ayu mengintip dari lubang kunci ruangan itu,
Sakit kak...
Desir darah mendadak turun kekaki, suara berbisik pelan itu berasal dari belakang ayu. Ayu gemetaran, dia tak sanggup berbalik.
‘aku akan mati’ bisiknya dalam hati
BRAK...
Pintu terbuka, ayu makin terbelalak menatap orang didepannya memegang pisau yang berlumuran darah.
“.ketauan...”
orang itu tiba-tiba medekat dan
TAP...
Aaackk
Dia menancamkan pisau kekepala ayu
Ayu terkejut dan membuka mata, nafasnya masih terengah. Dia duduk dan memandang lagi sekitarnya.
“.aku... aku bermimpi.” Ujarnya lega.
Dia memegang dadanya dan merasakan jantungnya masih berdetak kencang.
‘sebenarnya apa maksud mimpi itu? Kenapa aku selalu mimpi yang sama? Kakak?’
KRING....
Suara telepon membuat ayu terperanjat, dia segera mengangkat telepon yang terus saja berteriak seakan ingin menyadarkannya.
“.ha halo?.”
“.ada apa sayang?.”
“.mama?.”
“.kamu kenapa? Kok kayaknya kamu ketakutan gitu.”
“.ah enggak ma. Mama kapan pulang?.”
“.ya nanti malam dong sayang.”
“.pulang sekarang aja deh ma. Kan banyak dokter yang lain dirumah sakit itu.”
“.sayang, masa’ mama ngasih contoh yang gak baik sih ke rekan yang lain. Mentang-mentang mama yang punya RS, gitu?.”
“.ya enggak sih ma, tiba-tiba ayu kangen banget ama mama.”
“.oh sayang, mau minta apa kali ini?.”
“.ah mama. Emangnya ayu Cuma kangen mama kalo pengen sesuatu?.”
Laila tertawa mendengar nada suara ayu yang merajuk
“.becanda sayang, iya nanti mama coba buat pulang cepet ya. Semoga aja pasien hari ini gak banyak.”
“.oke deh, i love you mam.”
KLIK...
Ayu menutup teleponnya
Ayu menatap keluar jendela kamarnya, rintik hujan membasahi seluruh taman bunga kesayangannya
“.wah, kalo ujan terus. Bisa-bisa bunga mataharinya mati lagi, belum lagi bunga mawarku duh.. rontok deh kelopaknya.” Ujarnya sambil terus menatap.
Lalu ayu menatap bayangannya di kaca jendelanya “.rasanya sepi banget ya, pengen deh punya pacar. Pasti bisa nelpon dia sekarang.”
Tiba-tiba saja, bayangannya berubah jadi sesosok wanita lain.
Ayu terperanjat hingga jatuh
“.si.. siapa dia?.”
Sosok wanita yang tertunduk itu memegang kaca seakan ingin keluar.
Ayu melangkah mundur berlahan ‘ada apa dengan aku? Apa aku sudah kehilangan akalku? Kenapa aku terus saja melihat wanita ini’
Tok.. Tok...
Ayu stontan menoleh ke pintu lalu melihat kekaca lagi yang ternyata sudah kosong.
‘aku memang sudah gila’ ujarnya dalam hati lalu membuka pintu rumahnya
“.mam, akhirnya mama pulang juga.” Ujarnya lega
“.emangnya ada apa?.”
“.tadi ad...” tiba-tiba saja dia menghentikan ucapannya “.never mind.”
“.kamu itu kecape’an, mama kan udah bilang jangan berhenti minum obat dari mama.”
“.iya ma.”
Keesokkan harinya ayu terlambat masuk kekantornya
“.kamu kenapa?.” Tanya tania sambil menggeser bangkunya “.gak biasanya terlambat kayak gini.”
“.aku gak bisa tidur semalam.”
“.berantem ama pacar kamu ya?atau ada masalah dengan mama kamu?.”
Ayu menggelengkan kepalanya
“.entah kenapa, semalaman aku merasa ada yang mengawasi.”
Tania makin mendekati ayu “.ada orang yang nerror kamu? Kenapa kamu gak laporin aja.”
“.aku juga gak yakin itu orang atau ada yang lain.” Kata ayu
Tania terdiam sejenak “.mungkin kamu sudah terlalu lelah dan mumet.” Ujarnya sambil merangkul ayu mencoba menenangkannya “.bagaimana saat liburan kantor nanti kita liburan ke palembang aja. Kotanya indah banget.”
“.boleh juga, aku memang gak pernah keluar kota sebelumnya.”
“.rugi kalo gak pernah kepalembang, mumpung udara disana lagi dingin.”
“.oke deh.”
“.ikutan dong.” Ujar yeni
“.boleh-boleh.”
“.saat pulang jangan lupa bawain pempek ama kemplang ikannya.” Ujar teman ayu yang lain.
“.tenang aja deh.” Ujar ayu.
“.kepalembang?.”
“.iya ma kepalembang, ayukan gak pernah...”
“.enggak, mama gak izinin kamu kesana. Ngapain sih jauh-jauh, disini aja kan bisa.”
“.mam, ayukan juga pengen jalan-jalan keluar kota.”
“.kenapa harus palembang sih? Kamukan bisa ke bandung atau bali.”
“.tapi tania, punya saudara di palembang.”
“.kira memang anak asuh.”
‘aku sudah menduga itu’ ujar ayu dalam hati ‘jangan-jangan dia iri padaku lalu...’
“.begitu juga kamu.”
Ayu terkejut dengan apa yang didengarnya, jantungnya hampir meledak karna berdebar terlalu kencang.
“.apa?aku?anak asuh? Gak mungkin aku anak asuh, lagi pula aku hanya menemukan surat adopsi atas nama kira saja.”lalu ayu terdiam seakan teringat sesuatu ‘atau surat adopsiku sudah terbakar habis?’
“.ayu?! sedang apa kamu?.” Panggil seseorang.
“.aku bersama ibu maryam ma.”
Laila bergegas mendekati ayu dan menariknya “.jangan dekati anakku! Mengerti!.” Laila membentak wanita renta itu dengan keras.
Maryam yang ketakutan langsung bergegas pergi.
“.ayu, apa kamu sudah gila? Kenapa kamu mendekati orang itu?.”
“.memangnya kenapa ma? Bukannya dia dulu pembantu di rumah kita yang lama?.”
“.apanya?mama gak kenal dia, yang mama tau dia itu orang gila yang biasa berkeliaran di daerah ini.”
“.orang gila? Tapi kenapa dia bisa tau tentang aku dan kira? Kenapa dia bilang aku dan kira anak asuh?.” Tanya ayu, dia menatap mata laila dalam-dalam.
“.biar mama ceritain ya kenapa dia bisa tau, itu karena dia menganggap kalian anaknya dan aku Cuma orang yang mengasuh kalian. Tiap kali bertemu kalian dia pasti bilang begitu pada kalian.” Ujar laila dengan sangat marah.
Ayu sempat kaget melihat mamanya yang tak pernah seemosi ini
“.maafin ayu ma, ayu gak tau. Ayu Cuma bingung, banyak hal yang gak bisa ayu terima.”
Laila membelai anaknya mencoba menenangkan “.sudahlah, kita pulang saja ke jakarta.”
“.jangan dulu ma, ayu masih betah dipelambang. Lagi pula ayu pingin mengenang kira disini. Kita pulangnya minggu depan aja ya.”
“.apa gak terlalu lama? 3 hari lagi aja ya?!.”
“.hmm, 6 hari lagi deh.”
“.4 hari, deal?.” Tanya laila sambil mengulurkan tangan.
“.deal deh.” Ujar ayu sambil menyambut jabatan tangan tanda setuju.
“.sayang, maafkan mama. Mama gak maksud memperlakukan kamu begini.”
Laila berdiri lalu mendekati ayu yang baru tersadar
“.kakakmu ranti...” mimik mukanya berubah jadi sangat sedih
‘ranti? Siapa ranti? Apa dia punya anak asuh lain selain aku?’
Laila berjalan dan membuka peti dibawah kasurnya, dan mengeluarkan boneka beruang “.dia anak kesayangan mama dan papa, mama dan papa merawatnya dengan baik sejak dikandungan. Dia anak yang cantik. Mama menghadiahkannya Boneka ini saat dia ulang tahun ke 20 dia sangat senang menerimanya, anak kebanggaanku.” dia memeluk boneka beruang tua yang sudah lusuh dimakan waktu. “.tapi,sejak dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki, dia semakin jauh dengan kami, hanya karna seorang anak brengsek. Dia berani berkata kasar dan membantah kami. Aku tak mau anakku berhubungan dengan brandal itu.” laila membuang boneka beruang lalu berlahan duduk dilantai “.aku menasehatinya sebisaku, tapi dia tak mau dengar. Dia terus bilang ‘mama aku mencintainya, aku mencintainya’ aku terpaksa mengurungnya dikamar. Tapi dia tetap saja berkeras untuk tetap berhubungan dengannya. Kami terpaksa mengizinkannya dan ternyata apa? Lelaki itu mengkhianatinya, diapun depresi dan...” laila menatap keluar jendela “.dia bunuh diri, dia loncat dari atap rumah kita dan meninggal.” dia menghela nafas lalu duduk dibangku kayu dekat jendela “.dan kau tau kemalangan apa lagi yang menimpa kehidupanku?.” laila menatap ayu seakan menunggu jawaban “.papamu, orang yang paling aku cintai.” laila terdiam sejenak seakan berat menceritakannya “.dia mengkhianatiku, dia pergi dengan wanita muda simpanannya. Dia lebih memilih pelacur itu dibandikan aku! Istrinya!!.” laila berteriak sambil menghentakkan kakinya dengan kesal lalu dia meneteskan air mata, dia menatap ayu lalu tersenyum “.hidup mama bagai dineraka saat itu, kesendirian, kesunyian dan semua kepedihan itu menyiksa, Hingga akhirnya aku bertemu dengan kalian berdua dirumah panti. Aku merasakan bahagia yang sudah lama hilang, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus menjaga kalian hingga kalian mati, aku tak mau ada pengkhianatan yang merebut bidadari-bidadari kecilku.” Dia kembali mendekati peti lalu mengambil sesuatu “.tapi, ketika aku melihat adikmu menggenggam tangan seorang lelaki. Ketakutan itu muncul.” Dia berbalik dan menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya “.aku tak mau kehilangan orang yang paling aku cintai lagi. Tidak kali ini. Umurnya baru 19tahun, dia tak boleh mati sia-sia.” Dia tersenyum, senyumnya membuat ayu ketakutan “.lalu aku membunuhnya.” dia mengeluarkan pisau penuh noda darah yang mengering.
“.AACK...”
Ayu memekik ketakutan.
“.tuhan memang sayang pada keluargaku, dia buat kamu amnesia dan melupakan semua peristiwa itu. Lalu kita hidup bahagia berdua, sampai saat ini.” Laila menyeringai “.akhirnya aku bisa menyelamatkan kira anak kesayanganku dari dunianya yang kejam.”
“.menyelamatkan dari apa? Kau membunuh adikku!.”ayu berteriak, air matanya mengalir. Tapi ayu terus menatapnya dengan kebencian.
“.sayang.” laila mendekati ayu
PLAK...
Laila menampar ayu dengan keras, sakit yang dirasa oleh ayu tak dapat dibandingkan dengan rasa kehilangan yang ayu rasa. Ayu kembali menatap pembunuh itu dengan kejam. Dia tak bisa membuat ayu takut sekarang.
“.jangan pernah berteriak pada mama!.” Ujarnya dengan marah “.bukankah lebih baik dia mati ditanganku daripada dia mati sia-sia?. Lagipula kalian berdua yang memaksaku melakukan itu, begitu kan?.” Laila membuang pisaunya lalu mengambil alat suntik dari sebuah laci.
‘Apa? Apa maksudnya?mimpi itu? Apa mimpi itu yang dibicarakannya? Aku dan kira yang bersusah payah lari dari seorang wanita yang memegang pisau, ternyata wanita itu dia’ ayu menatap laila tak percaya.
“.mama sayang sekali dengan kamu, mama gak mau kamu mengalami hal yang sama dengan ranti. Mama ngerti kamu dan adikmu mencintai mereka, aku ini seorang ibu, aku tau apa yang terbaik bagi anak-anakku. Makanya aku ingin menyelamatkan kalian dari perasaan kecewa karna dikhianati.” Dia kembali tersenyum dan memeluk ayu.
Ayu memberontak dan mendorongnya,
Ketakutannya berbisik padanya ‘aku harus pergi.’
Tiba-tiba saja ayu terjatuh seperti tersandung sesuatu
‘.mau kemana?.”ujarnya sambil terus menggenggam kaki ayu dengan keras. Dia meraih mengambil alat suntik yang jatuh tak jauh darinya.
Dengan panik ayu menendang-nendangkan kaki ‘Aku harus lari. Aku harus lari...’
KRIKK...
Suara pintu berderit
Ayu melihat pintu gudang yang berlahan terbuka, gudang yang menakutkan bagi ayu .
Ada sesuatu yang merangkak keluar dari sana, rambut panjang terurai. Tangannya yang berlumuran darah, pakaian itu?!
‘Kira?’ tanya ayu dalam hati
Dia menatap ayu dengan matanya yang merah.
Ayu terbelalak menatapnya, dia tak bisa berkata-kata.
Kira terus merayapi lantai seakan ingin segera mendekati ayu.
“.aaack!.” rasa sakit di kaki ayu rasakan
dia menyuntikkan sesuatu pada ayu.
Kira makin mendekati ayu, matanya tak henti menatap ayu. Darah berlahan keluar dari mata dan mulutnya. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu. Dia menyeret tubuhnya yang penuh luka.
Kepala ayu berdenyut keras, pandangannya mulai tak jelas. Ayu mengulurkan tangannya pada kira. Ayu tak mau kira merasa dirinya sendiri lagi karna dalam hati ayu, dia tak sadar kalau dirinya terus merindukan kira.
“.kira, adikku, maafkan aku.” aku meneteskan air mata.
Kira tersenyum, dan meraih tangan ayu.
Tiba-tiba Semuapun menjadi gelap.
“.lampu mati?.” Ujar laila, lalu dia menatap ayu yang pingsan dihadapannya. Kilatan petir membantunya melihat ayu dengan jelas.
Kilat menyambar lagi, sepasang mata menatapnya dengan tajam.
“.aack!!!.” laila berteriak kencang, dia termundur, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya “.ki kira? Tak mungkin.” Dia menggelengkan kepala beberapa kali berusaha meyakinkan dirinya. “.dia sudah mati tak mungkin dia...”
Kilatan ketiga memperlihatkan ayu yang tak berdaya terbaring dilantai
“.berhentilah berhalusinasi, aku harus menyelamatkan bidadari kecilku. “ Laila menyeret ayu “.cepat... cepat...” ujarnya dengan lantunan nada lalu mengikat ayu di sebuah bangku kayu.
Ma...
Laila berbalik, dia merasa ada yang memanggilnya. Dia melihat kesekitarnya tapi tak menemukan siapapun disana. Dia kembali mempererat ikatan ayu.
Mama...
Laila mendengar lagi suara yang memanggilnya, lalu terdengar suara cekik anak kecil disertai dengan kayu yang menderit berulang, seakan ada yang berlari di atasnya.
Rasa penasaran dan takut ada orang lain yang melihat, laila mencari asal suara itu dan mengejar sepintas bayangan sesuatu yang melintasinya diantara lorong-lorong rumahnya.
BRAK...
Suara pintu tertutup kencang.
Laila tau ada seseorang yang sengaja menutupnya dengan keras, pasti ada orang lain dirumah ini. Laila menggapai gagang pintu.
“.AYU?!! AYU?!!.” Ada seorang lelaki yang meneriaki nama ayu, laila menunda rasa penasarannya dan mengendap-endap mendekati orang yang berani masuk ke rumahnya tanpa permisi.
“.AYU??!!.” yuka melihat kesekitarnya dan tak menemukan siapapun yang menjawab “.apa aku ditipu oleh wanita itu?.” Ujarnya.
“.ayu dalam bahaya.” Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang bicara pada yuka.
Yuka berbalik dan hanya melihat bisa melihat bagian punggung wanita itu “.apa maksud kamu?.”
“.ayu dalam bahaya, mama akan membunuhnya. Kamu harus menolong ayu.” Lalu wanita misterius itu melangkah pergi.
“.hei... hei...” yuka berusaha memanggil wanita itu tapi tak dihiraukan.
‘gimana kalau itu memang benar?’ ujarnya dalam hati ‘ah, paling Cuma kejahilan yang lain’ ujarnya lalu melangkah ‘kalau memang benar akibat bisa sangat fatal’ kata hatinya tiba-tiba. Dia menghentikan langkah, ‘tak ada waktu untuk berfikir, yang penting pastikan dulu ayu tak teramcam’ yuka langsung berbalik dan berlari menuju rumah ayu.
‘jangan-jangan aku memang dibodohi lagi’ Ujarnya dalam hati.
DUK DUK DUK
Terdengar suara aneh diatas kepalanya, seakan-akan ada sesuatu yang berbenturan dengan lantai.
Disaat yang bersamaan ayu berusaha keras menghentak-hentakkan kursi kayu yang mengikatnya, dia yakin mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Lakban menghalanginya menjawab panggilan itu.
Yuka mencari tangga yang menuju ke lantai atas.
“.ayu?.” yuka terperanjat melihat ayu yang terikat dengan dipenuhi luka dan darah.
Ayu makin memberontak dan mengeluarkan suara aneh, seakan menandakan sesuatu.
BRAK...
Yuka yang masih bingung dan kaget terpental dan terguling ditangga karna menerima pukulan keras yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Laila turun dan melihat keadaan orang yang hampir merusak rencana sucinya tergeletak berlumuran darah. Dia tertawa kencang, merasa bahagia menatap kekalahan yuka.
Mendengar suara tawa laila yang mengerikan membuat harapan ayu pupus dan makin panik, dia membentur-benturkan kursi kayu yang mengikatnya dengan keras dan bergegas. Dia menangis sejadinya karna terlalu panik dan khawatir dengan yuka.
“.sayang?.”
Ayu terkejut dan melihat laila sudah berdiri didepannya dengan pemukul kasti yang berlumur darah ditangannya.
Laila mendekati ayu
“.oh sayang, jangan nangis dong. Mama gak maksud buat kamu kaget. Mama minta maaf ya.” Ujarnya lalu memeluk ayu.
Ayu makin mengalirkan air mata dan terisak.
Laila melepaskan penutup mulut ayu.
“.mama, ayu takut ma.” Ujar ayu menatap mamanya
“.maafin mama sayang, setelah ini semua berakhir kita pasti bahagia selamanya. Setelah mama merekatkan sidik jari orang itu dipisau itu, mama akan menusukmu. Sedikit sakit sih sayang, tapi mama akan menusuk kamu dengan cepat agar kamu tak merasakan sakit, seperti kira. Mama yakin dia berterima kasih pada mama saat ini. Makanya dia selalu memanggil-manggil mama. Setelah itu mama baru menusuk diri mama dan kita akan bersama-sama lagi. Kamu, kira, ranti dan mama.” Ujar laila sambil membelai ayu.
Ayu mengumpulkan tenaganya lalu berkata “.mama, ayu pengen mama peluk untuk yang terakhir kalinya.” Ujar ayu, dia berusaha menekan kuat rasa takutnya.
“.oh sayang.”laila memeluk ayu dengan erat.
“.ayu sayang mama.”
Ayu berdiri dan sekuat tenaga mendorong laila hingga menabrak dinding, keduanya jatuh. Tapi ayu berusaha kabur tapi laila langsung menarik kaki kursi yang menyulitkan ayu bergerak. Laila menegakkan kursi kayu itu dengan benar dan mulai memukul ayu.
BAG.... BUG....
“.berani kamu menipu mama!.” Laila sekuat tenaga memukul muka ayu, hingga ayu yang masih terikat terjatuh dan kursi kayu itu hancur karna terhempas keras.
Kali ini laila menendangi ayu “.kamu buat mama benar-benar marah, gadis kecil.”
BRAK!!!!
Suara pintu terbanting membuat laila menghentikan penganiayaannya, siapa lagi kali ini yang mengganggunya. Laila menatap pintu gudang yang terbuka lebar.
NGIIITT....
Suara deritan terdengar,
Laila melangkah maju, rasa penasaran mendorongnya untuk melihat apa yang akan keluar dari ruang itu.
Mama...
Suara panggilan yang merintih memanggil laila lagi
“.kira?.” ujarnya penuh tanya.
Sebuah tangan yang kurus, pucat dan lusuh keluar dari ruangan yang ternyata gudang.
Kenapa mama? Kenapa mama membunuh aku, anak kesayanganmu?
Suara mengerikan itu membuat ayu dan laila terpaku
Terdengar lagi suara tangisan terisak-isak.
“.ki.. kira.. mama Cuma ingin kamu bahagia.”
18 September 2007
BEHIND THE DOOR by darkangel_rocks
Diposkan oleh
Harry
di
10:59
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





















1 komentar:
hah askum Hari masih inget gw nggak...?ni tmn Mts dulu.lg xibuk apa nih?.bwt tulisanmu aku suka banget tegang dech.tapi mau kritik nggak
kritik: ceritanya langsung ke pokok cerita nggak ada prolognya.terus karakter pemeran utamanya nggak sebegitu aku ngerti.yang aku tanggkap dari cerita itu "SAIKO"ya.
wah sukses aja bwt cerita nya.mampir di Facebookq donk sambil reuni sam anak MTs dulu
Best Regard
laily
Poskan Komentar